oleh

Thaharah : Adab-Adab Buang Air

Ilustrasi : Air Mengalir
 

Thaharah : Adab-Adab Buang Air


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thaharah : Adab-Adab Buang Air
Pembahasan kali ini Insya Allah akan kami sajikan bahasan fiqih thaharah yaitu bagaimana adab-adab buang air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya akan memuat tata cara buang air yang disertai dengan dalil-dali yang mendasarinya.

Sengaja kami mengangkat bahasan fiqih ini, atas banyaknya pertanyaan yang pada pada dasarnya ingin mengetahui bagaimana adab-adab buang air sesuai sunnah atau adab-adab buang air sesuai dengan kaidah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ia dan juga para tabi’in.

ADAB-ADAB BUANG AIR


Setidaknya ada 10 budpekerti yang terkait dengan buang air, baik itu buang air besar maupun juga budpekerti buang air kecil.

Adab PERTAMA

Menutupi tubuh atau menjauh dari insan ketika buang air (hajat)

 

Setiap kali hendak menunaikan hajat untuk buang air, baik buang air besar maupun buang air kecil, sebaiknya menutupi tubuh biar tak terlihat oleh orang lain, atau menjauh dari pandangan orang lain hingga tak terlihat jikalau tidak menemukan epilog tubuh.
 
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,


خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.


“Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, ia tidak menunaikan hajatnya di kawasan terbuka, namun ia pergi ke tempat yang jauh hingga tidak nampak dan tidak terlihat.” [HR. Ibnu Majah no.335. Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini shahih]

Dari hadits di atas membuktikan pentingnya menunaikan budpekerti yang pertama ini. Semua insan niscaya akan merasa malu jikalau ketika buang air ia terlihat oleh orang lain, sehingga sebaik-baik budpekerti buang air itu menutupi tubuh atau menjauh dari manusia. Salah satu pola menutupi tubuh ketika buang air ialah dengan menggunakan kamar mandi atau WC yang mempunyai dinding dan pintu yang sanggup melindungi tubuh biar tidak terlihat ketika buang air besar maupun kecil.

Adab KEDUA

Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan asma Allah ketika buang air (hajat)

 

Salah satu budpekerti buang air yang juga perlu diperhatikan ialah tidak membawa atau mengenakan sesuatu, baik itu cincin, kalung, ikat pinggang, baju atau sesuatu yang lain yang bertuliskan lafazh atau asma Allah masuk ke dalam kamar mandi atau toilet.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ


“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sebenarnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al-Hajj: 32]

Sebuah riwayat dari Anas bin Malik, ia mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, ia meletakkan cincinnya.” [HR. Abu Daud no. 19 dan Ibnu Majah no. 303. Abu Daud menyampaikan bahwa hadits ini Munkar. Syaikh Al Abani juga menyampaikan bahwa hadits ini munkar]

Meski hadits ini ialah hadits munkar yang diingkari oleh banyak peneliti hadits. Namun memang cincin ia betul bertuliskan “Muhammad Rasulullah”. [HR. Bukhari no. 5872 dan Muslim no. 2092]

Syaikh Abu Malik hafizhahullah mengatakan,
“Jika cincin atau semacam itu dalam keadaan tertutup atau dimasukkan ke dalam saku atau tempat lainnya, maka boleh barang tersebut dimasukkan ke toilet”.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan,
“Jika ia mau, ia boleh memasukkan barang tersebut dalam genggaman tangannya, sedangkan ia takut barang tersebut hilang lantaran diletakkan di luar, maka boleh masuk ke dalam kamar mandi dengan barang tersebut lantaran alasan kondisi darurat.” [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/92, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Namun perlu diketahui, bahwa pendapat ulama yang membolehkan membawa cincin yang bertuliskan asma Allah ke dalam kamar mandi atau toilet, jangan dijadikan dasar bolehnya melaksanakan hal tersebut dalam semua kondisi. Pesan dari para ulama bahwa itu boleh “jika keadaan darurat”. Darurat jikalau dikhawatirkan sedang berada di toilet umum pada sentra keramaian sedang ia khawatir jikalau barang tersebut disimpan di luar toilet akan hilang, maka dibolehkan untuk memasukkannya ke dalam saku. Akan tetapi berbeda keadaannya jikalau kita sedang berada di rumah sendiri, sedang kita mempunyai banyak ruang dan tempat untuk menaruh barang tersebut sebelum masuk ke dalam toilet atau kamar mandi, maka barang tersebut dihentikan dibawa masuk ke dalamnya.

Adab KETIGA

Mengucapkan Ta’awudz dan Basmalah sebelum masuk ke dalam toilet atau kamar mandi

 

Adab ini dilakukan jikalau seseorang memasuki tempat buang hajat berupa bangunan. Sedangkan ketika berada di tanah lapang, maka ia mengucapkannya di ketika melucuti pakaiannya. [Keterangan dari Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/93]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ


“Penghalang antara pandangan jin dan aurat insan ialah jikalau salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, kemudian ia ucapkan ‘Bismillah’.” [HR. Tirmidzi no. 606, dari ‘Ali bin Abi Tholib. Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini shahih]

Dari sahabat Anas bin Malik, ia mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, ia ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari setan pria dan setan perempuan).” [HR. Bukhari no.142 dan Muslim no.375]

Pengertian setan pria dan setan wanita sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Abu Sulaiman Al Khattabi. [Lihat Al Minjah Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 4/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392].

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adab membaca doa semacam ini tidak dibedakan untuk di dalam maupun di luar bangunan.” [Al-Minjah Syarh Shahih Muslim, 4/71]

Untuk do’a “Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khabaits”, boleh juga dibaca “Allahumma inni a’udzu bika minal khubtsi wal khabaits” (dengan abjad ba’ yang disukunkan). Bahkan cara baca khubtsi (dengan ba’ disukun) itu lebih banyak di kalangan para ulama hadits sebagaimana dikatakan oleh Al-Qadhi Iyadh rahimahullah. Sedangkan mengenai makna kata tersebut, ada ulama yang beropini bahwa makna khubtsi (dengan ba’ disukun) ialah gangguan setan, sedangkan khabaits ialah maksiat. [Al-Minjah Syarh Shahih Muslim, 4/71]

Maka dengan demikian, cara membaca dengan kata “khubtsi” (dengan ba’ disukun) dan “khabaits” itu lebih luas maknanya dibanding dengan makna yang di awal tadi lantaran makna kedua berarti meminta dukungan dari segala gangguan setan dan maksiat.

 
Ilustrasi : Hadits Riwayat At-Tirmidzi, no.606
 

Adab KEEMPAT

Masuk dengan mendahulukan kaki kiri, Keluar dengan mendahulukan kaki kanan

 

Mendahulukan yang kanan dalam masalah yang baik ialah sangat dianjurkan ibarat menyisir rambut dan menggunakan sandal. Sedangkan untuk masalah yang buruk maka mendahulukan yang kiri lebih utama.

Syaikh Ali Basam mengatakan, “Mendahulukan yang kanan untuk masalah yang baik, ini ditunjukkan oleh dalil syar’i, dalil logika dan didukung oleh fitrah yang baik. Sedangkan untuk masalah yang jelek, maka dipakai yang kiri. Hal inilah yang lebih pantas menurut dalil syar’i dan logika.” [Lihat Taisirul ‘Alam, Syaikh Ali Basam, hal.26, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, cetakan pertama, tahun 1424 H]

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke tempat buang hajat dan kaki kanan ketika keluar, maka itu mempunyai alasan dari sisi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang baik-baik. Sedangkan untuk hal-hal yang buruk (kotor), ia lebih suka mendahulukan yang kiri. Hal ini menurut dalil yang sifatnya global.” [As Sailul Jarar, Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani, 1/64, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, cetakan pertama, tahun 1405 H]

Adab KELIMA

Tidak menghadap kiblat atau pun membelakanginya Saat Buang Air

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


« إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى


“Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala.” [HR. Bukhari no.394 dan Muslim no.264]

Pada hadits tersebut di atas, terdapat kalimat “hadaplah arah barat dan timur”, sedangkan maksud dari kalimat tersebut ialah hadits tersebut diriwayatkan ketika itu kondisinya di Madinah. Tentu saja keadaan tersebut akan berbeda dengan keadaan di Indonesia yang letak geografisnya terhadap arah kiblat berbeda dengan keadaan di Madinah, sehinga kita perlu utnuk mengkondisikannya. Baik ketika kita berada di dalam ruangan maupun sedang berada di luar ruangan, menurut keumuman hadits di atas. Pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/94].

Adab KEENAM

Dilarang Berbicara secara Mutlak kecuali jikalau Keadaan Darurat

 

Salah satu dalil yang menyebutkan adanya larangan secara mutlak untuk berbicara ketika berada di dalam tempat buang hajat atau tempat buang air, ialah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,


أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.


“Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun ia tidak membalasnya.” [HR. Muslim no.370]

Syaikh Ali Basam mengatakan, “Diharamkan berbicara dengan orang lain ketika buang hajat lantaran perbuatan semacam ini ialah suatu yang hina, menyampaikan kurangnya rasa malu dan merendahkan murua’ah (harga diri).” Kemudian ia berdalil dengan hadits di atas“. [Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Maram, Syaikh Ali Basam, 1/315, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1425 H]

Akan tetapi dalam keadaan darurat atau mendesak, maka diperbolehkan untuk berbicara atau menjawab sesuatu pertanyaan penting.


Syaikh Abu Malik mengatakan, “Sudah kita ketahui bahwa menjawab salam itu wajib. Ketika buang hajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, maka ini menyampaikan diharamkannya berbicara ketika itu, lebih-lebih lagi jikalau dalam pembicaraan itu mengandung dzikir pada Allah Ta’ala. Akan tetapi, jikalau seseorang berbicara lantaran ada suatu kebutuhan yang mesti dilakukan ketika itu, ibarat menunjuki jalan pada orang (ketika ditanya ketika itu, pen) atau ingin meminta air dan semacamnya, maka dibolehkan ketika itu lantaran alasan darurat. Wallahu a’lam.” [Shahih Fiqh Sunnah, 1/95]

Adab KETUJUH

Tidak buang air di jalan atau di tempat bernaungnya manusia

 

Dalilnya ialah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


« اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ ». قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِى ظِلِّهِمْ ».


“Hati-hatilah dengan al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia)!” Para sahabat bertanya, “Siapa itu al la’anain (orang yang dilaknat oleh manusia), wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka ialah orang yang buang hajat di jalan dan tempat bernaungnya manusia.” [HR. Muslim no.269]

Adab KEDELAPAN

Tidak buang hajat di air yang tergenang

 

Dalilnya ialah hadits Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,


أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ.


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.” [HR. Muslim no. 281]

Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ar Rafi’i mengatakan, “Larangan di sini berlaku untuk air tergenang yang sedikit maupun banyak lantaran sama-sama sanggup mencemari.” [Lihat Kifayatul Akhyar, Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Hushni Ad Dimasyqi, hal.35, Darul Kutub Al-Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H]

Adab KESEMBILAN

Memperhatikan Adab-adab Ketika Istinja

 

Adab-adab yang perlu diperhatikan ketika ber-istinja antara lain.

1. Tidak beristinja’ dan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan.

Dalilnya ialah hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِى الإِنَاءِ ، وَإِذَا أَتَى الْخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ


“Jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia buang hajat, janganlah ia memegang kemaluan dengan tangan kanannya. Janganlah pula ia beristinja’ dengan tangan kanannya.” [HR. Bukhari no.153 dan Muslim no.267]

 
2. Ber-istinja sebaiknya menggunakan air
 
Namun ketika tidak menemukan air maka dibolehkan menggunakan kerikil sebanyak minimal tiga buah kerikil (istijmar). Beristinja dengan menggunakan air sebenarnya lebih utama dari pada beristinja menggunakan kerikil sebagaimana menjadi pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/88-89]

Alasan mengapa menggunakan air itu lebih utama, tentu lantaran air lebih higienis dibandingkan batu.


Dari Anas bin Malik, ia mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ أَجِىءُ أَنَا وَغُلاَمٌ مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ . يَعْنِى يَسْتَنْجِى بِهِ


“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk buang hajat, saya dan anak sebaya denganku tiba membawa seember air, kemudian ia beristinja’ dengannya.” [HR. Bukhari no.150 dan Muslim no.271]

Sedangkan terdapat juga dalil yang menyampaikan bolehnya istinja’ dengan minimal menggunakan tiga buah batu. Dalil tersebut bersumber dari hadits Jabir bin ‘Abdillah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا اسْتَجْمَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَجْمِرْ ثَلاَثاً


“Jika salah seorang di antara kalian ingin beristijmar (istinja’ dengan batu), maka gunakanlah tiga batu.” [HR. Ahmad (3/400). Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyampaikan bahwa sanad hadits ini kuat]

 
3. Memercik-merciki kemaluan dan celana dengan air sehabis buang air kecil (kencing) untuk menghilangkan perasaan was-was.

Ibnu ‘Abbas mengatakan,


أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, kemudian sehabis itu ia memerciki kemaluannya.” [HR. Ad Darimi no.711. Syaikh Husain Salim Asad menyampaikan bahwa sanad hadits ini shahih]

Adab KESEPULUH

Mengucapkan do’a “Ghufranaka”

Setelah selesai dengan hajat, dianjurkan untuk mengucapkan ‘Ghufranaka’. Dan dalil yang mendasarinya ialah menurut riwayat hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,


أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa sehabis ia keluar kamar mandi ia ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, saya memohon ampun pada-Mu).” [HR. Abu Daud no.30, At-Tirmidzi no.7, Ibnu Majah no.300, Ad Darimi no.680. Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini shahih]

Adapun Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan perihal ucapan ghufranaka ketika keluar dari kamar mandi,
“Kenapa seseorang dianjurkan mengucapkan “ghufronaka” selepas keluar dari kamar kecil, yaitu lantaran ketika itu ia dipermudah untuk mengeluarkan kotoran badan, maka ia pun ingat akan dosa-dosanya. Oleh karenanya, ia pun berdoa pada Allah biar dihapuskan dosa-dosanya sebagaimana Allah mempermudah kotoran-kotoran tubuh tersebut keluar.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail Al ‘Utsaimin, 11/107, Darul Wathan-Daruts Tsaraya, cetakan terakhir, 1413 H]

Wallahu a’lam.

Demikian risalah fiqih thaharah berjudul “Adab-adab Buang Air”, semoga bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita perihal ilmu fiqih khususnya masalah thaharah yang di dalamnya terdapat adab-adab buang air besar dan buang air kecil.
 
 
Dari Seorang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : Berbagai Hadits
Label : Fiqih, Thaharah, Adab-adab Buang Air, Hadits
Deskripsi : Pembahasan kali ini Insya Allah akan kami sajikan bahasan fiqih thaharah yaitu bagaimana adab-adab buang air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya akan memuat tata cara buang air yang disertai dengan dalil-dali yang mendasarinya.


News Feed