oleh

Subhanallah, Inilah Keutamaan Ayat Bangku Dan Al-Ikhlas

“Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas”

SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas


Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

[SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas] Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa yang dimaksud salah satunya yaitu beriman kepada kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur’an yang merupakan kitab yang paling tepat dan mempunyai berbagai keutamaan bagi siapa saja yang mau membaca dan menjadikannya petunjuk. Di dalamnya terdapat berbagai Doadoa dan Dzikir yang sanggup kita petik pesan yang tersirat di baliknya.

Selain keutamaan Surah Al-Fatihah dari surah-surah yang lain, dan di antara ribuan ayat yang tersurat di dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang Allah berikan keutamaan melebihi ayat selainnya dalam Al-Qur’an. Ayat tersebut yaitu Ayat Kursi. Ayat Kursi terletak di dalam Surah Al-Baqarah pada ayat ke 255.

Telah disebutkan melalui jalur yang Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ayat yang paling utama dalam Al-Qur’an yaitu ayat Kursi. Dalam Shahih Muslim, dari hadits Ubay bin Kaab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wahai Abu Mundzir, apakah engkau tahu, manakah ayat dari kitab Allah padamu yang lebih agung?”, saya berkata, “Aku katakan, ‘allahu laa ilaaha illa huwa al hayyu! qayyum’ (Allah tidak ada sembahan yang haq selain Dia, Maha hidup dan Maha mengayomi)”. Maka ia shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dadaku dan bersabda, “Demi Allah, sungguh ilmu menenangkanmu wahai Abu Al-Mundzir. Yakni, jadilah ilmu sesuatu yang menyenangkan bagimu.” [HR. Muslim, No.810; Shahih]

Ayat yang mulia ini mendapat kedudukan demikian tinggi, hanyalah disebabkan lantaran keagungan kandungannya yang berupa tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengagungan-Nya, kebagusan kebanggaan atas-Nya, serta penyebutan sifat-sifat keagungan dan kesempumaan-Nya. Ia meliputi nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak lima nama, memuat sifat-sifat yang melebihi dua puluh sifat bagi Rabb tabaraka wa ta’ala, sehingga ia telah memuat hal-hal tersebut yang tidak dikandung oleh satu pun ayat selainnya dalam Al-Qur‘an.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Tidak ada dalam Al-Qur’an satu ayat pun yang kandungannya ibarat apa yang dikandung oleh ayat kursi. Hanya saja Allah Ta’ala menyebutkan di awal surah Al-Hadid dan surah Al-Hasyr sejumlah sifat namun dalam beberapa ayat dan bukan satu ayat saja.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal lmaan, hal. 133]

Oleh lantaran itu, termasuk keutamaan surah yang mulia ini yaitu bahwa orang yang membacanya dalam satu malam pasti senantiasa atasnya penjaga dari Allah swt, dia tidak didekati setan hingga shubuh. Keterangan ini terdapat dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah 435 dengan redaksi yang panjang. [Shahih Al-Bukhari, No. 2311]

Di antara keutamaannya, apa yang tercantum dalam Sunan An-Nasa‘i dan selainnya, dari hadits Abu Umamah ra, dari Nabi saw, tolong-menolong ia bersabda:

“Barang siapa membaca ayat bangku di belakang setiap shalat fardhu, maka tidak ada yang mencegahnya untuk masuk nirwana kecuali dia meninggal. 118 Yakni, tidak ada antara dia dengan masuk nirwana kecuali kematian.” [As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i, 6/no.9928, dinyatakan Shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no.972]

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,
“Telah hingga kepadaku dari syaikh kami Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah, biar Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia berkata, ‘Aku tidak pernah meninggalkannya di belakang setiap shalat.’”  [Zaadul Ma’ad, 1/304]

Dinukil pula melalui jalur Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, wacana keutamaan surah Al-Ikhlas, bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur‘an. Dalam riwayat Al-Bukhari, dari hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang pria mendengar seseorang membaca ‘qul huwallahu ahad’ (katakanlah Dia-lah Allah yang Esa), kemudian orang itu mengulang-ulangnya. Ketika pagi hari, kemudian dia tiba kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan hal itu, dan seakan dia meremehkannya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia setara dengan sepertiga Al-Qur ‘an.” [HR. Al-Bukhari, no.5013; Shahih]

Imam Bukhari meriwayatkan pula dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah salah seorang kau tidak bisa untuk membaca sepertiga AI-Qur‘an dalam satu malam?” Hal itu terasa berat bagi mereka, dan mereka berkata, “Siapa di antara kami yang bisa melaksanakan hal itu wahai Rasulullah? ” Maka ia Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Al-Waahid Ash-Shamad yaitu sepertiga Al-Qur ‘an”.” [HR. Al-Bukhari, no.5015; Shahih]

Para jago ilmu telah membahas tinjauan sehingga surah ini menyamai sepertiga Al-Qur‘an. Mereka menyebutkan dalam hal itu bermacam-macam jawaban. Jawaban yang paling baik ibarat disebutkan Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yaitu tanggapan yang dikutip dari Abu Al-Abbas bin Suraij, di mana ia berkata, “Maknanya, Al-Qur‘an diturunkan dalam tiga bagian; sepertiga pertamanya yaitu hukum-hukum, sepertiga kedua yaitu akad dan ancaman, dan sepertiga terakhir yaitu nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara surah ini merangkum nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal Imaan, hal.113]

Syaikhul Islam berkata,
“Apabila ‘qul huwallahu ahad’ setara sepertiga Al-Qur‘an, tidak menjadi kemestian ia lebih utama daripada surah Al-Fatihah, dan tidak berarti membacanya tiga kali sudah mencukupi membaca satu Qur’an. Bahkan ulama salaf tidak menyukai -ketika membaca Al-Qur‘an secara keseluruhan- membacanya kecuali satu kali ibarat tertulis dalam mushhaf. Sebab Al-Qur‘an mesti dibaca ibarat tertulis dalam mushhaf tanpa ditambah dan dikurangi… Akan tetapi kalau ‘quI huwaIIahu ahad’ dibaca tersendiri, boleh dibaca tiga kali atau lebih daripada itu, dan siapa membacanya pasti baginya pahala yang setara dengan sepertiga Al-Qur‘an. Namun yang setara dengan sesuatu berasal dari bukan jenisnya.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal Imaan, hal.133-134]

Kemudian, hadits-hadits yang memuat penyebutan keutamaan-keutamaan surah-surah dan ganjaran pembacanya, jumlahnya sangatlah banyak. Namun sebagian besar darinya tidak terhindar dari kelemahan. Bahkan di antaranya ada yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh lantaran itu, menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim untuk berusaha mengetahui yang Shahih di antara hadits-hadits tersebut, dengan bertanya kepada jago ilmu, dan mencar ilmu dari para seorang jago di bidangnya.

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya AI-Manaar AI-Munif fii Ash-Shahih wa Adh-Dha’if,
“Di antaranya -yakni hadits-hadits lemah- penyebutan keutamaan-keutamaan surah-surah dan ganjaran bagi yang membaca surah tertentu pasti pahalanya tertentu pula, dari awal Al-Qur’an hingga akhirnya, sebagaimana hal itu disebutkan Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi di awal setiap surah, dan Az-Zamakhsyari di selesai setiap surah. Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Aku kira orang-orang zindiq telah membuat-buatnya.’”

Adapun yang Shahih di antara hadits-hadits wacana keutamaan surah-surah, di antaranya hadits wacana surah Al-Fatihah, bahwa tidak diturunkan dalam Taurat, Injil, dan Zabur, yang sepertinya, hadits keutamaan surah Al-Baqarah dan Ali-lmran, bahwa keduanya yaitu zahrawan (dua yang bercahaya), hadits wacana ayat kursi, bahwa ia penghulu ayat Al-Qur‘an, hadits wacana dua ayat di selesai surah Al-Baqarah, bahwa siapa membaca keduanya dalam satu malam pasti mencukupi baginya, hadits surah Al-Baqarah, bahwa tidaklah ia dibacakan di satu rumah pasti setan tak akan mendekatinya, hadits sepuluh ayat di awal surah Al-Kahfi, bahwa siapa membacanya pasti dilindungi dari fitnah Dajjal, hadits ‘qul huwallahu ahad,’ bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur‘an, dan tidak Shahih wacana keutamaan-keutamaan surah apa yang Shahih padanya, hadits wacana dua surah perlindungan, bahwa tidak ada tampaknya yang dipakai berlindung oleh orang-orang mohon perlindungan, serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Diturunkan padaku beberapa ayat yang tidak dilihat yang sepertinya,” kemudian ia Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakannya.

Berada di peringkat berikut dari hadits-hadits di atas, dengan tingkat ke-Shahih-an yang lebih rendah, yaitu hadits wacana ‘idza zulzilat’ menyamai setengah Al-Qur‘an, hadits ‘qul yaa ayyuhal kaafirun’ menyamai seperempat Al-Qur‘an, dan hadits ‘tabarakal Iadzii biyadihil mulk,’ sebagai surah penyelamat dari siksa kubur. Kemudian hadits-hadits lain sesudahnya, ibarat sabdanya,

“Barang siapa membaca surah ini maka pahalanya ibarat ini”, maka semuanya yaitu palsu, namun mengatas namakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantaran pembuatnya sendiri telah mengakuinya dan berkata, “Aku bermaksud menyibukkan insan dengan Al-Qur‘an dan mengabaikan selainnya.”

Sebagian orang terbelakang dari kalangan pembuat hadits palsu berkata mengenai hal ini, “Kami berdusta untuk (membela) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak berdusta untuk (merendahkan)nya.”.

Sungguh orang terbelakang itu tidak mengetahui, barang siapa yang menyampaikan sesuatu atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara ia Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan hal itu, maka sungguh dia telah berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia berhak mendapat bahaya yang keras.”. Demikian pernyataan lbnu Al-Qayyim rahimahullah. [Al-Manaar Al-Muniif, hal.115-117]

Di antara kasus yang patut diketahui dalam permasalahan ini yaitu bahwa keutamaan membaca surah-surah ini dan selainnya, akan berbeda-beda sesuai perbedaan keadaan orang membaca terhadap surah-surah tersebut. Bacaan disertai tadabbur (perenungan) lebih utama daripada bacaan tanpa tadabbur.

Terkadang keadaan sebagian insan dalam membaca sebagian surah dan apa yang menyertai mereka saat membaca, berupa khusyu’, tadabbur, pemahaman terhadap kalam Allah Ta’ala, dan tekad yang jujur untuk mengamalkannya, lebih baik dan utama dari keadaan selain mereka yang tidak ibarat itu. Meski surah yang dibaca oleh mereka ini yaitu surah yang lebih utama.

Bahkan seorang insan saja bisa berbeda keadaannya. Terkadang seseorang mengerjakan satu amalan yang lebih rendah keutamaannya namun dengan bentuk sempurna, sehingga amalan itu lebih utama baginya dibandingkan amal-amalnya yang lain, meski amal-amal ini statusnya lebih utama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Dahulu ada sebagian syaikh meruqyah dengan membaca ‘qul huwallahu ahad,’ kemudian mendatangkan berkah yang agung, kemudian surah itu dipakai meruqyah oleh selainnya, tapi tidak mendatangkan keberkahan tersebut, sehingga dia berkata, tidaklah ‘quI huwallahu ahad’ dari setiap orang sanggup bermanfaat bagi setiap orang.” [Jawaab Ahli Ilmi wal Imaan, hal. 141]

Hanya saja imbas kedua bacaan ini mengalami perbedaan, meski yang dibaca hanya satu, disebabkan faktor dalam hati, berupa kejujuran, keikhlasan, tadabbur, keyakinan, motivasi, dan khusyu’.

Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja kita berharap untuk memperlihatkan kita sekalian taufiq untuk merealisasikan dan melaksanakannya dengan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang memberi taufiq kepada setiap kebaikan.

Wallahu a’lam bishshawab

Kesimpulan :

Keutamaan Ayat Kursi dan Surah Al-Ikhlas, antara lain :
  • Merupakan ayat yang paling utama di dalam Al-Qur’an, ayat Kursi yaitu penghulu ayat Al-Qur’an, lantaran mempunyai kandungan ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Mencakup 5 (lima) nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengandung sifat-sifat yang melebihi 20 (dua puluh) sifat bagi Rabb tabaraka wa ta’ala, sehingga ayat bangku ini telah memuat hal-hal tersebut yang tidak terkandung di ayat manapun selainnya dalam Al-Qur’an.
  • Barang siapa yang membacanya dalam satu malam, Allah akan menurunkan penjaga baginya, dia tidak akan didekati setan hinga subuh. [HR. Bukhari, no.2311; Shahih]
  • Barang siapa yang membacanya setiap selepas shalat fardhu, maka tidak ada jarak antara dia dengan syurga, kecuali kematian. [As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i, 6/9928], dan dinyatakan Shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no.972.
  • Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. [HR. Al-Bukhari, no.5013; Shahih]


Demikianlah, artikel wacana “Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas”, biar bermanfaat bagi seluruh pembaca, dan bagi mereka yang mau memberikan pengetahuan ini kepada muslim yang lain biar Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan memperlihatkan pahala amal Jariyyah di sisinya sebagai bekal investasinya nanti di alam abadi kelak.

________________
Referensi : Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Kitab Fiqih Do’a da Dzikir, Jilid.1, hal.112

Label : Doa, Dzikir, Tauhid, Ayat Kursi, Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas, Al-Ikhlas

Deskripsi : Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Surah Al-Ikhlas yang perlu anda ketahui, SUBHANALLAH, sungguh Allah Ta’ala telah mengakibatkan AYat Kursi sebagai ayat yang paling utama di dalam Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan janganlah kalian ibarat orang-orang yang lupa terhadap Allah, kemudian Allah mengakibatkan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang (yang) fasik.” [QS Al-Hasyr : 19]

INFO UPDATE