Misteri Gunung Kawi

0
1985
Misteri Gunung Kawi
Misteri Gunung Kawi

Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan “berkah” berziarah ke Gunung Kawi. Tetapi bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

Lazimnya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan menaruh sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung jangan memikirkan sesuatu yang gak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena ‘dikeramatkan’ dan dipercaya punya kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1. Tempat tinggal Padepokan Eyang Sujo

Tempat tinggal padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain merupakan bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno

2 buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini digunakan untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru

Di tempat pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk memperoleh ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.

Tetapi, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?

Yang dimakamkan dalam 1 liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Sejak itu mereka berdua gak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pengajaran. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkancara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berfungsi bagi penduduk setempat. Sahabat anehdidunia.com perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam eninggalnya Eyang Jugo, dan peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulanSuro (muharram), di tempat ini selalu dilangsungkan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Gak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Tetapi para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti akan menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Sampai dewasa ini pesarean itu sudah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini merupakan tokoh yang kharismatik dan populis.

Tetapi di ujung lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat berbagai pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum merupakan kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa supaya keinginan segera terkabul.

Wisata Ziarah Pesugihan Gunung Kawi

Pepatah terkenal di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat terkenal. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2. 000 meter, juga gak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa.

Setiap hari ratusan orang Tionghoa, termasuk orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai. Karena terkait dengan keyakinan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

Penginapan lebih dari 10 buah, dengan tarif Rp 30. 000 sampai Rp 200. 000. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan gak halal (buat muslim) cukup banyak. Tukang ramal nasib. Penjual kembang untuk nyekar. Penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya.

Jika masuk makam 2 makam tokoh yang sudah dijelaskan diatas, pengunjung harus membeli kembang. Sebelumnya, bayar retribusi untuk Desa Wonosari Rp 2. 000. Kemudian, menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk) atau identitas lain pada satpam untuk didaftar nama dan alamat. Sumbang lagi uang tapi sukarela. Jangan kaget jika anda menjumpai banyak sumbangan atau retribusi di aset wisata Kabupaten Malang ini.

Saat masuk ke kompleks Gunung Kawi, hampir 99 persen warga keturunan Tionghoa. Anak-anak, remaja, profesional muda, sampai kakek-nenek. Sahabat anehdidunia.com orang-orang itu bersembahyang layaknya di kelenteng. Masuk ke makam, jalan keliling makam, sambil membuat gerakan menyembah macam di kelenteng. Tidak ada arahan atau instruksi, mereka semua melakukan gerakan-gerakan itu.

Hampir gak ada Tionghoa itu yang beragama Islam. Kok begitu menghormati dan sembahyangan di depan makam Imam Soedjono dan Mbah Djoego? Apa mereka tahu siapa yang dimakamkan di sana? Belum lagi jika kami bahas secara teologi Islam atau Kristiani tentang boleh tidaknya melakukan ritual di Gunung Kawi.

Para pemandu wisata di Gunung Kawi berusaha gak menyinggung keyakinan atau agama orang lain. Selain sensitif, mereka gak ingin bisnis mereka terganggu. Harus diakui, warga Desa Wonosari memperoleh banyak berkah dari objek wisata Gunung Kawi. Gak sedikit penduduk mengais rezeki di kawasan Gunung Kawi mulai pemandu wisata, penjual bunga, warung, satpam, parkir, dan sebagainya.

Selain berdoa sendiri-sendiri, Yayasan Gunung Kawi menawarkan paket ritual 3 kali sehari: pukul 10. 00, pukul 15. 00, pukul 21. 00. Ritual ini dipimpin dukun atau tukang doa setempat, tetapi wajib gunakan sesajen untuk selamatan. Siapa yang ingin ikut wajib mendaftar dulu di loket.

Tarif barang-barang selamatan ditulis jelas di loket yang keren. Ada 2 tipe selamatan supaya keinginan anda (bisa rezeki, usaha lancar) tercapai. Bagi mereka yang percaya.

  • Pesugihan Gunung Kawi
  • Pengunjung antre membeli keperluan ritual.

 Berikut beberapa item yang umum dimanfaatkan:

  • Minyak tanah
  • Solar
  • Minyak goreng
  • Beras
  • Kambing
  • Sapi
  • Ayam
  • Wayang kulit
  • Ruwatan, dll

Melihat nilai rupiah itu, betul-betul membuat kami geleng-geleng kepala. Berdoa kok mahal sangat? Apa ada jaminan jadi kaya? Apa Tuhan perlu begitu banyak sayur, makanan, daging, wayang kulit, ruwatan…? Jika kami miskin, gak punya uang, apa harus utang untuk membeli barang-barang itu?

Di luar kompleks makam, ada Kelenteng Kwan Im. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Disana juga ada ciamsi, ajang meramal nasib ala Tionghoa.

Sekitar 6 kilometer dari kompleks makam ada pertapaan Gunung Kawi. Jalannya keren. Kompleks ini pun penuh dengan ornamen Tionghoa. Di ruang utama ada 3 dukun yang siap menerima kedatangan tamu, berdoa supaya rezeki lancar. Tapi sebelum itu si dukun membocorkan tarif selamatan yang jutaan rupiah seperti tertera di daftar harga di atas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.