oleh

Mencermati Potensi Titan Sebagai Rumah Kedua Manusia

Titan. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cassini

 – Selain planet Mars, satelit alami terbesar milik planet Saturnus yang berjulukan Titan juga dikatakan bakal menjadi sasaran misi pendaratan insan di masa mendatang. Tapi, seberapa besar potensi Titan untuk dihuni manusia?

Titan, menyerupai yang mungkin Anda ketahui, juga merupakan satelit alami terbesar kedua di Tata Surya sesudah Ganimede (satelit alami terbesar milik Jupiter). Diameter Titan diketahui sekitar 5.190 kilometer, hampir setengah diameter Bumi. Sekarang kita tahu, Titan ternyata cukup besar.

Titan mengorbit planet Saturnus setiap 22 hari, dan menyerupai banyak satelit alami berukuran besar di Tata Surya kita, Titan diketahui mengalami penguncian gravitasi atau disebut juga sebagai tidal locking, yakni hanya satu wajah atau sisinya saja yang selalu menghadap ke Saturnus.

Yang menarik dari Titan yaitu atmosfernya. Bahkan, Titan diketahui merupakan satu-satunya satelit alami di Tata Surya yang mempunyai atmosfer tebal. Jika Anda bisa bangkit di permukaan Titan, Anda akan mengalami sekitar 1,45 kali tekanan atmosfer di Bumi. Dengan kata lain, Anda tidak butuh baju astronot bertekanan untuk berjalan-jalan di permukaan Titan.

Namun, Anda membutuhkan mantel, mantel yang tebal jika ada. Sebab suhu permukaan Titan sangat dingin, dengan suhu rata-ratanya hampir minus 180 derajat Celsius di siang hari. Anda juga akan perlu oksigenerator untuk bernapas di Titan lantaran atmosfer Titan hampir seluruhnya nitrogen, ditambah sedikit metana dan hidrogen. Sebuah atmosfer yang tebal dan beracun, tapi tidak membunuh.

Misi-misi Masa Lalu ke Titan

Wahana antariksa pertama yang mengunjungi Titan yaitu Pioneer 11 milik NASA, yang sukses terbang lintas bersahabat melewati Saturnus dan satelit-satelit alaminya pada tahun 1979. Terbang lintas ini selanjutnya diikuti oleh Voyager 1 pada tahun 1980 dan kemudian Voyager 2 pada tahun 1981.

Voyager 1 bisa mengukur atmosfer dan membantu para ilmuwan menghitung ukuran dan massa Titan. Berkat Voyager 1, kita balasannya tahu bahwa Titan mempunyai beberapa tempat gelap yang sekarang diketahui sebagai lautan hidrokarbon cair.

Salah satu gambar Titan yang dijepret wahana antariksa Voyager 1. Kredit: NASA

Setelah Pioneer dan Voyager, eksplorasi Titan (dan Saturnus) juga dilakukan dengan wahana antariksa Cassini yang tiba di sistem Saturnus pada tanggal 4 Juli 2004. Cassini berhasil terbang lintas bersahabat pertama dengan Titan pada 26 Oktober 2004, yang membuatnya hanya berjarak 1.200 kilometer dari satelit alami terbesar Saturnus ini.

Cassini melihat bahwa Titan bahwasanya mempunyai sistem hidrologi yang sangat rumit yang bukan dalam bentuk air cair. Titan juga diketahui mempunyai cuaca hidrokarbon berkat pengamatan Cassini.

Meskipun kita tahu sedikit ihwal Titan, nyatanya masih ada begitu banyak misteri yang belum kita ketahui tentangnya. Misteri besar utamanya yaitu siklus air cair. Di Titan ada samudra-samudra besar yang berisi metana cair, yang juga sanggup menguap untuk membuat awan metana, serta membentuk hujan metana yang mengisi sungai-sungainya. Persis menyerupai siklus air di Bumi.

Lalu, apakah Titan aktif secara vulkanik? Titan disinyalir mempunyai kriovolkano, atau gunung berapi yang tidak mengeluarkan lava, melainkan es. Kriovolkano ini terbentuk akhir interaksi gravitasi dengan Saturnus, sehingga menimbulkan air di bawah permukaannya naik dan meletus ke permukaan.

Apakah ada kehidupan di sana? Ini mungkin kemungkinan yang paling menarik. Metana dipercaya merupakan materi kimia prekursor bagi kehidupan di Bumi berkembang miliaran tahun yang lalu. Bisa jadi ada kehidupan yang belum pernah kita bayangkan wujudnya di Titan yang memakai metana dan amonia sebagai pelarut, bukan air.

Untuk mendapat jawaban yang lebih baik untuk pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus kembali menjalani misi ke Titan. Kita harus mendarat, menjelajah ke sekitar, berlayar di lautannya, dan jika bisa berenang di pinggir pantai samuderanya.

Kolonisasi Titan

Bersemangat dengan misi kolonisasi Mars? Anda mungkin bisa mempertimbangkan misi kolonisasi Titan juga. Tapi, apakah Titan cukup kondusif bagi manusia? Pertama, untuk perlidungan dari radiasi, Titan mempunyai atmosfer yang 50 persen lebih tebal daripada atmosfer Bumi. Magnetosfer dari Saturnus juga menyediakan perlindungan.

Di permukan, jumlah hidrokarbon yang banyak dalam keadaan padat maupun cair siap dipakai sebagai energi. Meskipun atmosfernya kurang oksigen, es dari air sanggup ditemukan di bawah permukaan yang bisa dipakai untuk menyediakan oksigen untuk bernapas dan untuk membantu pembakaran hidrokarbon sebagai materi bakar.

Namun, pergi ke Titan ketika ini bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus dipersiapkan mulai dari kendaraan, persediaan makanan, sampai alat-alat untuk survival lainnya. Di masa mendatang, terang bukan mustahil insan bisa beranjak ke sana.

Pada intinya, potensi Titan sebagai rumah kedua insan cukup besar. Titan cukup laik huni bila dibandingkan dengan Venus atau bahkan Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan Washington State University, Titan meraih skor tertinggi. Bumi mempunyai indeks 1. Sementara Titan yaitu 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa (satelit alami Jupiter) dengan 0,47.

Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan menurut beberapa kriteria. Beberapa di antaranya yaitu keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi laik huni lantaran terbukti mempunyai air dan energi.

Jadi, siap untuk menjelajahi Titan?


Sumber: Scientific American, Outer Places, Forbes.

INFO UPDATE