oleh

Kisah Sedekah Suami Dan Istri Yang Sholehah, Bikin Terharu Dan Sadar

Kisah Sedekah Suami dan Istri Yang Sholehah, Bikin Terharu dan Sadar

Ilustrasi Kisah Sedekah Suami dan Istri Yang Sholehah kepada Ibunya (gambar telah dimodifikasi dari google.co.id)

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, Segala Puji hanya milik Allah Azza Wa Jalla. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sahabat, inilah Langit Allah. Langit yang menaungi kita sepanjang hidup kita di alam syahadah (dunia) ini. Dunia yang Allah ciptakan untuk kita beribadah hanya kepadaNYA saja, tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu apapun selainNYA.

Kali ini langitallah.com akan menyajikan sebuah kisah sekaligus sebagai renungan bagi kita semua hamba Allah yang senantiasa mengharapkan ridhaNYA. Sebuah kisah seorang istri yang sangat sholehah.

Dalam kisah ini kita diingatkan biar sanggup menyadari bahwa semua yang kita dapatkan belum tentu menjadi rezeki kita yang sesungguhnya. Gaji, upah, jasa dalam bentuk uang, semua itu belum menjadi rezeki kita jikalau belum bermanfaat bagi kehidupan alam abadi kita.

Inilah kisah seorang istri yang sholehah. Silakan dibaca perlahan dan difahami isinya.

Kisah ini menceritakan ihwal seorang suami yang bekerja di sebuah perusahaan terkemuka. Seperti biasanya, setiap simpulan tahunnya pihak perusahaan akan menawarkan semacam bonus untuk mengapresiasi seluruh karyawannya yang telah menawarkan kinerjanya yang baik untuk kemajuan perusahaan.

Sore itu, sebelum pulang dari kantornya, sang suami menelpon istrinya di rumah, “Sayang, alhamdulillah, bonus simpulan tahun dari perusahaan sudah turun, dan alhamdulillah dapet Rp. 150 juta.” Di ujung telpon sang istri tentu saja sangat bahagia mendengar kabar baik ini dan kemudian ia mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah….Ya Rabb, semoga barokah ya mas”.

Sejak beberapa bulan yg kemudian keluarga ini sudah merencanakan untuk membeli sebuah kendaraan beroda empat sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang bonus yang perusahaan berikan ia rasa cukup pas dan sesuai dengan budget yang ia perlukan untuk mewujudkan keinginannya itu. Lalu sang suami bergegas pulang ke rumah untuk menemui istrinya tercinta.

Namun dalam perjalanan pulang, beliau menerima telepon dari ibunya di kampung. Dari dialog yang disampaikan oleh ibunya, ia merasa tampaknya orang renta tercintanya itu sedang membutuhkan bantuannya.

“Ibu bilang aja, saya kan anak ibu” tanyanya kepada sang ibu, di ujung bunyi kemudian menjawab, “Nak….., maafin ibu sebelumnya, kau ada tabungan ga? Tadi ada orang tiba ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke beliau cukup besar, Rp. 50 juta, nak. Ibu gundah mau dapet uang dari mana sebanyak itu”.

Tanpa pikir panjang, ia pun eksklusif bilang ke ibunya, “Iya, Bu, insyaAllah ada. Ibu jangan khawatir ya… Nanti ibu sakit gimana? Insya Allah ada kok bu”

Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir dan berkata dalam hati, “Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli kendaraan beroda empat yang 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik.”

Lalu ia pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya, ia khawatir istrinya sudah cemas menunggu kedatangannya. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa Sekolah Menengan Atas tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil bicara terbata-bata mengabarkan bahwa anaknya harus segera dioperasi minggu ini. Banyak biaya yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit sangat besar baginya, Rp. 80 juta.

Ia pun berpikir sejenak. Dalam benaknya ia mulai berhitung, uang bonusnya tinggal 100 juta sesudah ia keluarkan untuk membantu ibunya yang juga sangat membutuhkan bantuannya. Jika 80 juta ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia niscaya gagal membeli kendaraan beroda empat impiannya.

Namun nuraninya mengetuk dan berbisik, “Berikanlah padanya…. Mungkin kau memang yaitu jalan yang Allah pilih untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang tiba melalui mediator dirimu.” kemudian ia pun menuruti panggilan nuraninya.

Tak usang berselang, setibanya di rumah, ia menemui istrinya dengan wajah yang lesu. Sang istri pun bertanya, “Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak ibarat biasanya pulang kantor sedih gini?” Sang suami kemudian mengambil napas panjang, “Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat kakak juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini mungkin kita nggak jadi beli kendaraan beroda empat dulu.”

Sang istri pun tersenyum, “Aduh, mas, kirain ada persoalan apaan. Mas, uang kita yang bergotong-royong bukan yang 20 juta itu, tapi yang 130 juta. Uang yang kita infakkan kepada orang renta kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yang sesungguhnya. Yang akan kita bawa menghadap Allah, yang mustahil bisa hilang jikalau kita ikhlas. Sedangkan yang 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain.”

Sang istri pun memegang tangan suaminya, “Mas, insyaAllah ini yang terbaik. Bisa jadi jikalau kita beli kendaraan beroda empat ketika ini, justru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi petaka besar justru tiba ketika kendaraan beroda empat itu hadir ketika ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, lantaran kita hanya tahu yang kita inginkan, sementara Allah-lah yang lebih tahu apa yang kita butuhkan”.

Tadabbur

Sahabat, itulah kisah seorang istri sholehah yang menciptakan mata kita terbuka ihwal bagaimana rezeki kita yang sesungguhnya. Apakah semua yang Allah titipkan melalui mediator kita itu sudah menjadi baik bagi kita? Apakah harta yang kita kumpulkan selama ini telah bermanfaat bagi keluarga kita dan orang lain yang membutuhkan santunan kita?

Saudaraku… Apalah artinya harta dan kesenangan dunia ini jikalau alam abadi kita belum kita benahi dari ketika ini. Sesungguhnya ada 3 hal ihwal diam-diam dibalik rezeki yang Allah titipkan melalui kita. Rezeki yang memang telah menjadi hak milik kita hingga sanggup kita membawanya menghadap kepada Allah Sang Pemberi Rezeki.

Diantara 3 hal itu yaitu :

1. Rezeki yang telah kita makan
2. Rezeki yang telah kita belanjakan
3. Rezeki yang telah kita SEDEKAHkan

Poin yang ke-3 inilah yang sedang kita bahas dan berupaya kita renungkan ketika ini. Makanan serta pakaian dan juga uang yang banyak kita punya itu akan menjadi rezeki perhiasan jikalau kita sedekahkan. Baju yang banyak namun tidak terpakai oleh kita yang hanya menumpuk dan memenuhi ruang dalam lemari tidak akan menawarkan kepada kita perhiasan apa-apa, kecuali hanya menambah ongkos perawatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 195 :

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
  

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kau menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, lantaran sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Dengan harta titipan itu, kita sanggup membeli hingga 100 an piring makanan, namun hanya 2 piring saja yang sanggup kita habiskan. Bukankah 98 piring itu akan lebih baik bagi kita di sisi ALLAH jikalau kita sedekahkan kepada tetangga dan orang miskin di sekitar kita?. Untuk apa kita menyimpan masakan kita dalam lemari dan kulkas yang tidak jarang akibatnya membusuk dan basi, bukankah lebih baik jikalau tetangga di sekitar kita juga turut menikmatinya? Mengapa kita begitu bersemangat menumpuk harta kekayaan di dunia yang fana ini? Mengumpulkan uang di Bank hingga ajal menjemput dan melupakan berzakat dengan harta itu.

Sahabatku… Semua yang hidup akan mencicipi mati. Dan harta kita tak sanggup untuk memperpanjang usia kita. Yang tertinggal hanya sisa sedekah saja. Kalau kita lupa bersedekah selama hidup maka bangkrutlah kita di alam abadi nanti. Menjadi orang paling celaka sedunia, Padahal kita mempunyai sumberdaya untuk menambah pundi-pundi amal di dunia ini, tapi tidak kita dilakukan.

Ingatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 245 :

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kau dikembalikan”.

Saudaraku… Ingatkan saya jikalau saya sombong.
Rezeki yang kita miliki sama saja dengan mereka yang hidupnya miskin? Mereka makan kita juga makan. Mereka berpakaian sepasang kita juga hanya bisa menggunakan sepasang dari ribuan lembar lainnya di lemari.
Kita mempunyai segalanya, namun jikalau si miskin bersedekah maka ia lebih berarti sedekahnya di sisi Allah dibanding kita yang lebih bisa melakukannya. Sebab berSedekah dalam keterbatasan jauh lebih mulia dibanding sedekah disaat lapangnya hidup kita.

Saudaraku… Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa. Mari bersedekah, alasannya yaitu sedekah kita akan membantu kita menghadapi pengadilan Allah di alam abadi kelak. Wallahu a’lam bishshawab. (langitallah.com)

INFO UPDATE