oleh

Hadits Shahih Mutawaatir : Neraka Untuk Pendusta Atas Nama Rasulullah

ilustrasi : kalimat motivasi kejujuran

Hadits Shahih Mutawaatir : NERAKA Untuk Pendusta Atas Nama Rasulullah


Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Hadits Shahih Mutawaatir : NERAKA Untuk Pendusta Atas Nama Rasulullah
Di kiamat telah bermunculan para ‘dajjal-dajjal’ yang senantiasa berdusta. Kali ini akan disampaikan beberapa dalil hadits shahih mutawatir wacana bahaya Neraka bagi para Pendusta yang mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Risalah ini bersumber dari sebuah buku/kitab yang ditulis oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat, seorang ulama dari negeri Indonesia yang populer telah menghafalkan banyak hadits, termasuk di dalamnya telah mengupas banyaknya beredar hadits-hadits dha’if dan maudhu’ di indonesia.

Dalil-dalil Ancaman bagi para Pendusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


Dari Abi Hurairah, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih mutawatir riwayat Bukhari (110) dan Muslim (3) dan lain-lain).

Dari Abi Hurairah, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Barangsiapa yang membuat-buat/mengada-ada perkataan atas (nama)ku yang (sama sekali) tidak pernah saya ucapkan, maka hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih riwayat Imam Ahmad bin Hambal di musnadnya juz 1 hal 321 dan Ibnu Majah (34).

Dari Salamah bin al Akwa’ , dia berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan atas (nama)ku, apaapa (perkataan) yang tidak pernah saya ucapkan, maka hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (109) dan lain-lain.)

Hadits ini juga di keluarkan oleh Imam Ahmad (juz 4 hal 47).

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan lagi (juz 4 hal 50) dengan lafazh:
“Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil atau (dia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah saya ucapkan, melainkan daerah tinggalnya di neraka.” 

 

 

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Sesungguhnya yang menghalangiku/ mencegahku menceritakan/ meriwayatkan hadits yang banyak kepada kamu, (ialah) alasannya ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa yang aengaja berdusta atas (nama)ku,  maka hendaklah ia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (108), Muslim (2) dan hin-lain).

Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Zubair), dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Zubair bin ’Awwam, ”kenapakah saya tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits yang banyak) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana saya mendengar dari Ibnu Mas’ud dan si fulan dan si fulan?”
Beliau menjawab, ”Adapun saya tidak pernah berpisah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak saya masuk Islam. Akan tetapi saya pernah mendengar dari dia satu kalimat, yaitu dia bersabda: Barangsiapa yang berdusta/berbohong atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”

(Hadits shahih riwayat Bukhari (107) dan Abu Dawud (3651) dan Ibnu Majah (36) dan lain-lain. Dan lafazh di atas dari riwayat Ibnu Majah.)

Dua riwayat di atas dari dua orang Shahabat besar yaitu Anas bin Malik dan Zubair bin ‘Awwam, menunjukkan betapa sangat hati-hatinya para Shahabat di dalam meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala sesuatu yang disandarkan kepada beliau. (Bacalah pembahasannya di Al Masaa-il Jilid I duduk kasus 3).

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sampaikanlah dariku meskipun satu jumlah, dan ceritakanlah wacana Bani Israil tidak mengapa, dan barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (3461), Tirmidzi juz 4 hal 147bagian Kitabul Ilmi, Ahmad juz 2 hal 159, 203, 214 dan lain-lain. Tambahan dalam kurung ( ) pada lafazh hadits dari riwayat Ahmad dan Tirmidzi.)

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Janganlah kau berbohong atas (nama)ku! Sesungguhnya barangsiapa yang berbohong atas (nama)ku, maka hendaklah dia masuk ke neraka.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (106), Muslim (1), Tirmidzi juz 4 hal 142 -bagian Kitabul Ilmi-, Ibnu Majah (no 31) dan Ahmad juz 1 hal 83.) 


Dari Mughirah (bin Syu’bah) radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama dengan berdusta kepada orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil daerah tinggalnya di neraka.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (1291), Muslim (4) dan Ahmad juz 4 hal 252. Sedangkan perhiasan dalam kurung ‘( )’ pada lafazh hadits dari riwayat Muslim dan Ahmad.)

Dari Watsilah bin Al Asqa’ radhiyallahu ’anhu, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sesungguhnya dari sebesar-besar dusta ialah seorang mengaku (berbapak) kepada yang bukan bapaknya (yakni dia menasabkan dirinya kepada orang lain yang bukan bapaknya). Atau (dia mengatakan) telah diperlihatkan kepada matanya apa yang (sebenarnya) matanya itu tidak pernah melihatnya (yakni dia mengaku telah bermimpi dan melihat sesuatu di dalam mimpinya itu akan tetapi bahu-membahu bohong).”

Di dalam riwayat yang lain, ”Atau (dia mengatakan) telah diperlihatkan kepada kedua matanya di dalam tidur (mimpi) apa yang tidak dilihat oleh kedua matanya (yakni dia berbohong dengan menyampaikan bahwa dia telah bermimpi). Atau dia menyampaikan atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang dia tidak pernah sabdakan.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari (3509) dan Ahmad juz 4 hal 106 dan riwayat yang kedua/yang lain dari riwayat Ahmad.)

Dari Abi Bakar bin Salim, dari bapaknya (yaitu Salim bin Abdulah bin Umar), dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Umar), dia berkata: Sesungguhnya Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya orang yang berdusta/berbohong atas (nama)ku akan dibangunkan untuknya satu rumah di neraka.”
(Hadits riwayat Ahmad juz 2 hal 22, 103 & 104 dengan sanad shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.) – lihat syarah hadits-hadits di atas di Al-Masaa-il jilid I duduk kasus ke-2

Demikianlah risalah wacana “Hadits Shahih Mutawaatir : NERAKA Untuk Pendusta Atas Nama Rasulullah”, biar dengan goresan pena ini sanggup menciptakan kita lebih berhati-hati menjaga ekspresi kita, sehingga kita sanggup terhindar dari bahaya neraka bagi para pendusta yang mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam bishshawab

Disalin dari Kitab Hadits Dha’if dan Maudhu’ Jilid 1, oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat
 

Label : Hadits, Dusta, bohong, dusta atas nama Rasulullah
Deskripsi : Di kiamat telah bermunculan para ‘dajjal-dajjal’ yang senantiasa berdusta. Berikut ini disampaikan banyak dalil hadits shahih mutawatir wacana bahaya Neraka bagi para Pendusta yang mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

News Feed