by

Anjuran, Cara Dan Keutamaan Puasa Asyura 9 Dan 10 Muharram

Bulan Muharram merupakan bulannya Allah Subhanahu wa Ta ANJURAN, CARA DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA  9 DAN 10 MUHARRAM
Ilustrasi : Piring dan sendok makan

Anjuran, Cara Dan Keutamaan Puasa Asyura  9 Dan 10 Muharram


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Anjuran, Cara Dan Keutamaan Puasa Asyura  9 Dan 10 Muharram
Bulan Muharram merupakan bulannya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia (Muharram) yakni 1 di antara 4 bulan haram yang dipenuhi banyak kuatamaan dan keberkahan di dalamnya yang diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa melaksanakan amal shaleh sebagai embel-embel dan bekal untuknya.

Arti Asyura

Asyura memiliki arti “kesepuluh”
Hari Asyura berarti “hari kesepuluh”
Puasa Asyura yakni Puasa yang dilakukan pada hari kesepuluh (Muharram).
Puasa Tasu’ah yakni puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharram, sebagai pembeda dari kebiasaan orang-orang Yahudi yang juga melaksanakan puasa asyura (10 Muharram).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Ketika nabi berpuasa pada hari ‘Asyura, dan dia menyuruh para sobat berpuasa padanya. Para Sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolong-menolong hari itu hari yang dibesarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasara.’. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Maka pada tahun depan insya Allah kita akan berpuasa (memulainya) pada hari kesembilan.’ Lalu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan: ‘Tidak sempat tiba tahun depan, nabi diwafatkan (oleh Allah)’.” [HR. Muslim dan Abu Dawud]

Anjuran Puasa Pada Hari Tasu’ah dan Asyura

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه


“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan dia memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut.” [Muttafaqun ‘alaih]

Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال يكفر السنة الماضية

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya ihwal puasa Asyura, dia menjawab, “(Puasa Asyura) sanggup menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no.197 dan 1162]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع


“Jika saya masih hidup hingga tahun mendatang maka sungguh saya akan berpuasa pada hari ke 9-nya.” [HR. Muslim, no.134 dan 1134]

Hadits pertama dan kedua yakni dalil yang menawarkan dianjurkannya puasa pada hari ke 10 Muharram. Akan tetapi dalam hadits yang ketiga dia tegas menyampaikan ingin berpuasa juga sehari sebelumnya yaitu pada tanggal 9 Muharram untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10 Muharram saja. Mereka (kaum Yahudi) berpuasa pada tanggal 10 Muharram untuk menawarkan rasa syukur atas kejadian selamatnya Nabi Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi faidah penting bahwa fatwa Islam dibangun di atas penyelisihan dari ajaran-ajaran agama yang lain, baik dari kaum Yahudi maupun kaum Nashrani.


Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Nabi dan para sahabatnya yakni pihak yang paling pantas meneladani para Nabi sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling akrab kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah yakni Pelindung semua orang-orang yang beriman” [QS. Ali ‘Imran: 68]

Maka dia lebih berhak terhadap Musa daripada orang-orang Yahudi yang mengingkari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu dia shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari tersebut (10 Muharram) dan memerintahkan insan untuk berpuasa dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke 10 saja.

Cara Berpuasa Tasu’ah dan Asyura Menurut Para Ulama

Ibnul Qoyyim dan para Ulama yang lain membagi Puasa Asyura dalam tiga cara berpuasa, di antaranya yakni :

Cara Pertama

Berpuasa pada hari ke 9 Muharram (Tasu’ah) dan hari ke 10 Muharram (Asyura), dan ini amalan yang paling utama.

Cara Kedua
Berpuasa pada hari ke 10 Muharram (Asyura) dan hari ke 11 Muharram, ini kedudukannya lebih rendah dibanding amalan yang pertama.

Cara Ketiga
Berpuasa hanya pada hari ke 10 saja, dan sebagian Ulama menganggap (perbuatan ini) makruh sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menyelisihi orang-orang Yahudi. Meski demikian tidak dinafikan ada sebagian Ulama yang memberi dispensasi akan hal ini. [Syarh Riyadhusshalihin 3/506]

Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani berkata,
“Berpuasa pada hari ke 11 Muharram diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunannya 4/287, akan tetapi riwayat ini lemah sebab dalam sanadnya ada perawi yang buruk hafalannya yaitu Ibnu Abi Laila. Dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits lain dengan redaksi yang semakna. Namun riwayat yang menyebutkan hari ke 11 Muharram dinilai “Munkar” sebab menyelisihi hadits Shahih, “Jika saya masih hidup hingga tahun mendatang maka saya akan berpuasa pada hari ke 9-nya (tanpa menyebutkan hari ke 11).” [Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 9/288 no.4297].

Akan tetapi bila seseorang berhalangan terhadap puasa sunnah pada tanggal 9 Muharram, maka hendaknya dia berpuasa tanggal 10 dan 11 supaya menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi. Adapun yang menyebutkan berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram, maka tidak ada dalil shahih dan sharih yang mengkhususkannya.

Keutamaan Puasa Tasu’ah dan Asyura


Sebaik-baik puasa Asyura ini mulai dilakukan pada hari kesembilan (Tasu’ah) dan ditambahkan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Beberapa kautamaan yang diperoleh bagi seseorang yang melaksanakan puasa asyura (10 Muharam) yang didahului dengan puasa satu hari sebelumnya yaitu pada hari kesembilan pad bulan Muharram (Tasu’ah), di antaranya yakni :

Keutamaan Pertama

Puasa di bulan Muharram yakni sebaik-baik puasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama sesudah (puasa) Ramadhan yakni puasa pada bulan Allah (Muharram). Sementara shalat yang paling utama sesudah shalat wajib yakni shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163].

Bulan Muharram disebut sebagai Syahrullah, yaitu Bulan Allah, yang dengan gelar tersebut menawarkan akan kemuliaan bulan Muharram. Ath-Thibiy menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan puasa di Syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al-Qori menyampaikan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan yakni seluruh bulan Muharram. [Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532].
Sedangkan Imam An-Nawawi rahimahullah menyampaikan bahwa bulan Muharram yakni bulan yang paling afdhal untuk berpuasa. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50].

Keutamaan Kedua

Melakukan Puasa Asyura sanggup menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu

Dari Abu Qatadah Al-Anshariy, dia berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ


“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ‘Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang kemudian dan setahun yang akan datang.’. Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu’.” [HR. Muslim no.1162].

Tafsir dari hadits tersebut di atas, Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini yakni dosa kecil. Sebagaimana dia menunjukan problem pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun dibutuhkan dosa besar pun bisa diringankan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut dibutuhkan bisa meninggikan derajat seseorang. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46].

Sedangkan berdasarkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dia beropini secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan menyerupai puasa Asyura. [Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501]

Keutamaan Ketiga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempunyai impian berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) pada bulan Muharram.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata, bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melaksanakan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada ketika itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.


“Wahai Rasulullah, hari ini yakni hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” 

Lantas dia mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ


“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.”

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.


“Belum hingga tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah terlebih dahulu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134]

Wallahu a’lam bishshawab

Demikian risalah singkat ihwal “Anjuran, Cara dan Keutamaan Puasa Asyura 9 dan 10 Muharram” ini, semoga sanggup menambah khasanah keilmuan kita supaya bisa lebih memahami fatwa agama islam lebih dalam sehingga kita sanggup semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah kita di masa mendatang.

_________
Label : Hadits, Aqidah, Puasa, Asyura, Puasa 10 Muharram, Keutamaan Puasa Asyura, Pendidikan
Deskripsi : Begitu banyak keutamaan yang sanggup diperoleh bagi seseorang yang mau melaksanakan puasa Tasu’ah dan Asyura, yang di antaranya sanggup menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Hal ini disebutkan dalam Hadits Riwayat Muslim no.1162.


News Feed