oleh

Ancaman Bagi Yang Mencela Hujan Dan Angin

Ilustrasi : Seekor Capung kehujanan

ANCAMAN Bagi Yang Mencela Hujan dan Angin


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

ANCAMAN Bagi Yang Mencela Hujan dan Angin
Segala apa yang diciptakan dan dikehendaki oleh Allah Ta’ala tak ada satu pun yang sia-sia. Ini berarti segala ciptaan-Nya mempunyai manfaat dan nikmat bagi seluruh alam. Begitu juga dengan hujan dan angin, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya tentu dengan manfaat dan rahmat yang terkandung di dalamnya yang diperuntukkan bagi seluruh alam semesta, termasuk di dalamnya bagi manusia.

Manfaat Angin dan Hujan Bagi Manusia


Hujan sebagai Nikmat bagi manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala :


وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ


“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa informasi besar hati sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); sampai apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu tempat yang tandus, kemudian Kami turunkan hujan di tempat itu, maka Kami keluarkan dengan lantaran hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kau mengambil pelajaran.“ [QS Al-A’raf : 57].

Allah Ta’ala telah memperlihatkan kabar besar hati dengan menurunkan hujan ke bumi dengan membawa segala rahmat-Nya. Hujan sanggup menyuburkan tanah yang tandus, menumbuhkan segala jenis tanaman yang mempunyai banyak manfaat bagi insan serta buah-buahan yang diperoleh dari tanaman tersebut.

LARANGAN MENCELA HUJAN DAN ANGIN

Maka tak pantas bagi insan yang oleh kemurahan Allah Ta’ala melalui hujan untuk masih saja mengeluh bahkan tak sedikit insan yang mencela atau melontarkan kalimat celaan terhadap hujan yang Allah turunkan atas kehendak-Nya. Itu sama saja dengan tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan sekaligus mengingkari sifat Allah Yang Maha Berkehendak.

Coba perhatikan perilaku sebagian insan yang ada di sekitar kita. Ketika hujan turun terus menerus seakan tak ada gejala untuk reda barang sekejap, ditambah lagi dengan kondisi angin yang bertiup kencang, insan seringkali merasa terganggu atau terhalangi aktifitas kesehariannya. Dengan ketidaksabaran menanti redanya hujan, seringkali terlintas kalimat-kalimat mencela hujan dan angin.

“Hujan kapan berhentinya sih, jadi telat kerja deh gegara hujan gak reda-reda”
Atau kalimat yang lain, “Hujan sialan, gimana jemuran gue sanggup kering kalo hujan kagak mau berhenti”
Atau bahkan mungkin pernah ada kalimat-kalimat mencela hujan sejenis itu yang lebih parah lagi dari kalimat celaan di atas. Na’udzubillahi minzalik.

Ketahuilah, tolong-menolong hujan itu yaitu Rahmat yang Allah turunkan ke muka bumi ini.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺮْﺳِﻞُ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺡَ ﺑُﺸْﺮًﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱْ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ


“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa informasi besar hati sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)…” [QS Al-A’raaf: 57]

Kata ‘rahmat’ sebagaimana cuilan kalimat ayat di atas mempunyai arti ‘hujan’. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud kata ‘rahmat’ tersebut. Beliau berkata,


وقوله : ( بين يدي رحمته ) أي : بين يدي المطر


“Maksud dari ‘sebelum datangnya rahmat-Nya’ yaitu sebelum tiba hujan.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Dalam ayat lain juga Allah menyebutkan hujan sebagai rahmat. Allah berfirman,


ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﻗَﻨَﻄُﻮﺍ ﻭَﻳَﻨْﺸُﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪُ


“Dan Dialah Yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan membuatkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. ” [QS. Asy Syuura: 28].

Ayat-ayat tersebut di atas terang menyatakan bahwa hujan yaitu rahmat yang Allah turunkan ke atas bumi. Maka oleh lantaran hujan merupakan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga kita sangat dihentikan untuk mencela hujan dan juga angin sebagaimana angin akan bertiup bersama-sama dengan turunnya hujan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ


”Janganlah kau mencaci maki angin.” [HR. Tirmidzi, shahih]

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur perputaran waktu, pergantian cuaca dan segala yang ada di seluruh alam semesta ini. Mencela dan memaki hal tersebut, berarti juga telah mencela Allah Ta’ala sebagai Dzat yang mengatur segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, termasuk di dalamnya hujan dan juga angin.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ


”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ‘Anak Adam menyakiti-Ku. ia mencela waktu, padahal Aku yaitu (Pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” [HR. Muslim]

Doa Ketika Hujan Turun Tanpa Henti


Allah Ta’ala yaitu Sang Pengatur hujan, maka tak ada satupun makhluk di atas bumi dan juga pada langit melainkan hanya Allah yang Maha Berkehendak menghentikan hujan tersebut. Sehinga saat hujan turun terus menerus tanpa henti, maka kita sanggup memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala semoga hujan dialihkan dari kita, dengan doa berikut:


اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ


Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa, Allahumma ‘alal aakaami wadz dzirabi wa buthunil awdiyati wa manabitis syajari
“Ya Allah, Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, Berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.” [HR. Al-Bukhari 1/224 dan Muslim 2/614]

Atau secara ringkas sanggup dengan membaca:


اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا


“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak kepada kami.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,


المراد بالحديث الدعاء بصرف المطر عن الأبنية والدور، والآكام جمع أَكمةٍ بفتح الهمزة، وهي الجبل الصغير أو ما ارتفع من الأرض. والظِّراب بكسر الظاء جمع ظرب بكسر الراء، وهو الرابية الصغيرة، وأما ذكر الأودية فلأنها يتجمع فيها الماء ويمكث مدة طويلة ينتفع منه الناس والبهائم.


“Maksud hadits ini yaitu memalingkan hujan dari bangunan dan pemukiman. Al-Aakaam yaitu jamak dari akamah dengan memfathahkan hamzah, yaitu gunung kecil atau apa yang tinggi di bumi (dataran tinggi). Azh-zhiraab maknanya yaitu bukit yang kecil. Adapun penyebutan lembah lantaran di situlah tempat berkumpulnya air dalam waktu yang usang sehingga sanggup dimanfaatkan oleh insan dan hewan ternak.” [Fathul Baari 2/505, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah]

Ibnu Daqiq Al-‘Ied rahimahullah menjelaskan ,


وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى الدُّعَاءِ لِإِمْسَاكِ ضَرَرِ الْمَطَرِ. كَمَا اُسْتُحِبَّ الدُّعَاءُ لِنُزُولِهِ عِنْدَ انْقِطَاعِهِ. فَإِنَّ الْكُلَّ مُضِرٌّ


“Hadis ini merupakan dalil doa memohon dihentikan imbas jelek hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa semoga turun hujan, saat usang tidak turun. Karena semuanya membahayakan (baik usang tidak hujan atau hujan yang sangat lama, pent).” [Ihkam Al-Ahkam, 1/358. Mathba’ah As-Sunnah Muhammadiyyah, syamilah]

Namun sebelum memanjatkan doa, sangat ditekankan untuk memperhatikan adab-adab berdoa, sehingga setiap doa yang kita mohonkan sanggup dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab ketahuilah, doa yang memperhatikan adab-adab ber-doa akan mendapat perhatian khusus atau keutamaan yang lebih dibandingkan dengan doa yang tidak dibarengi dengan adab-adab ber-doa sebagaimana disunnahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Baca juga : Adab-adab berdoa Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam]

Wallahu a’lam bishshawab

Demikian risalah wacana “ANCAMAN Bagi Yang Mencela Hujan dan Angin”, semoga bermanfaat bagi kita semua dan sanggup menambah khazanah pengetahuan kita wacana adanya larangan mencela hujan dan angin. Dan semoga kita terhindar dari kebiasaan yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.


_________
Label : Doa, Akhlak, Aqidah, Mencela Hujan
Deskripsi : Di sekitar kita seringkali ditemui insan yang mencela hujan yang tak kunjung berhenti. Namun tahukah kita bahwa kebiasaan mengeluh dan mencela hujan itu diancam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an sebagai insan yang kufur nikmat?


News Feed