by

5 Cara Dalam Menangani Konflik Apapun

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.



Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya yaitu menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, watak istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang masuk akal dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Dalam konflik selalu ada dua kepentingan utama, yaitu sebagai berikut.

1. Kepentingan untuk mencapai tujuan
2. Kepentingan untuk tetap memelihara kekerabatan baik dengan orang lain

Adanya dua kepentingan yang berbeda tersebut sanggup memengaruhi cara bertindak dalam suatu konflik. Dengan melihat dua kepentingan tersebut, sanggup diungkapkan lima cara dalam menangani konflik, yaitu sebagai berikut.

1. Menghindar
Cara ini seakan-akan ibarat kura-kura yang menarik diri ke dalam tempurungnya untuk menghindari konflik. Tipe ini mengorbankan tujuan eksklusif ataupun hubungannya dengan orang lain. Orang ini berusaha menjauhi duduk kasus yang menimbulkan konflik ataupun orang yang bertentangan dengannya. Orang yang menggunakan cara ini yakin bahwa tidak ada gunanya berusaha menuntaskan konflik, ia merasa tak berdaya. Ia yakin akan lebih gampang menarik diri (secara fisik ataupun psikologis) dari situasi konflik daripada harus menghadapi konflik.

2. Memaksakan Kehendak
Orang dengan cara ini berusaha menguasai lawan-lawannya dengan memaksa mereka untuk mendapatkan penyelesaian konflik yang diinginkannya. Tujuan pribadinya dianggap sangat penting, sedangkan kekerabatan dengan orang lain kurang begitu penting. Tipe ini tidak peduli terhadap kebutuhan orang lain, ia tidak peduli apakah orang lain menyukai dan mendapatkan dirinya atau tidak. Ia menganggap bahwa konflik harus diselesaikan dengan cara satu pihak menang dan pihak yang lain kalah. Orang ini ingin menjadi pemenang sebab kemenangan akan memberi rasa gembira dan sebaliknya, kekalahan akan menimbulkan perasaan lemah, rasa tidak mampu, dan rasa gagal. Ia berusaha menang dengan menyerang, menguasai, mengatasi, dan melaksanakan intimidasi terhadap orang lain.

3. Menyesuaikan pada Keinginan Orang Lain
Pada gaya ini, kekerabatan dengan orang lain sangat penting, sedangkan tujuan eksklusif kurang begitu penting. Orang tipe ini ingin diterima dan disukai orang lain. Ia merasa bahwa konflik harus dihindari demi keserasian (harmoni) dan ia yakin bahwa konflik tidak sanggup dibicarakan kalau merusak kekerabatan baik. Ia khawatir apabila konflik berlanjut, seseorang akan terluka dan hal itu akan menghancurkan kekerabatan eksklusif dengan orang tersebut. Ia mengorbankan tujuan eksklusif untuk mempertahankan kekerabatan dengan orang lain. Orang dengan cara ini seakan-akan berkata: “aku mengorbankan tujuanku dan membiarkanmu menerima apa yang kamu inginkan semoga kamu menyukai diriku”. Orang ini berusaha memperhalus situasi konflik yang terjadi.

4. Tawar-Menawar
Tawar-menawar ini cukup memperhatikan tujuan eksklusif dan juga hubungannya dengan orang lain. Orang ibarat ini biasanya mencari kompromi, ia mengorbankan sebagian tujuan eksklusif dan membujuk orang lain yang berkonflik dengan dirinya semoga ikut berkorban juga. Tipe ini mencari penyelesaian terhadap konflik yang menempatkan kedua belah pihak memperoleh sesuatu, seakan-akan bertemu di tengah antara kedua kedudukan ekstrim (mementingkan tujuan eksklusif dan mementingkan kekerabatan dengan orang lain). Ia ingin mengorbankan sebagian tujuan eksklusif ataupun hubungannya dengan orang lain untuk mencapai persetujuan ke arah kebaikan bersama.


5. Kolaborasi
Cara ini sangat menghargai tujuan eksklusif dan hubungannya dengan orang lain. Ia memandang konflik sebagai duduk kasus yang harus diselesaikan. Orang tipe ini memandang konflik untuk meningkatkan kekerabatan dengan cara mengurangi ketegangan kedua belah pihak. Ia berusaha memulai sesuatu pembicaraan yang sanggup mengenali konflik sebagai suatu masalah. Tipe ini memelihara kekerabatan dengan cara mencari pemecahan yang memuaskan kedua belah pihak. Ia tidak akan merasa puas hingga menemukan suatu penyelesaian yang sanggup mencapai tujuan pribadinya dan tujuan orang lain. Ia juga tidak akan merasa puas hingga ketegangan dan perasaan negatif sanggup diselesaikan sepenuhnya.

Kapan Anda harus menggunakan cara tersebut untuk menangani konflik? Berikut ini terdapat beberapa petunjuk yang bisa membantu.

a. Apabila tujuan eksklusif tidak begitu penting dan Anda juga merasa tidak perlu memelihara kekerabatan dengan orang lain maka Anda sanggup menghindar. .
b. Jika tujuan eksklusif sangat penting, tetapi kekerabatan dengan orang lain tidak begitu penting maka Anda sanggup bertindak dengan memaksakan kehendak
c. Jika tujuan eksklusif tidak begitu penting, tetapi kekerabatan dengan orang lain sangat penting maka Anda sanggup menggunakan cara menyesuaikan pada impian orang lain
d. Jika tujuan eksklusif ataupun kekerabatan dengan orang lain cukup penting bagi Anda dan orang lain, itu sama-sama tidak akan memperoleh apa yang diinginkan bersama maka bisa dilakukan cara tawar-menawar. 
e.  Jika tujuan eksklusif dan kekerabatan dengan orang lain sangat penting, Anda bisa bertindak dengan cara kolaborasi.

Sumber: Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XI

News Feed