PBB Kecam Presiden Filipina Bunuh 1.000 Bandar Narkoba

Dikecam PBB Karna Bunuh Ribuan Pengedar Narkoba – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebab menyoroti kebijakannya memerangi narkoba. Perintah Duterte kepada polisi menyebabkan kekerasan – terhitung pembunuhan tanpa pengadilan skala besar – di semua negeri pada pelaku kejahatan narkoba.

Duterte menebar ancaman terhadap pemantau Hak Asasi Manusia, maupun lembaga di bawah PBB, supaya tidak mengusik tindakan pemerintah Filipina. Politikus 71 tahun ini membuktikan PBB bodoh lantaran berharap polisi menghormati hak asasi pengedar narkoba. “Jangan sampai ada investigasi (lembaga HAM) yang menempatkan kita seakan-akan penjahatnya,” kata Duterte.

Politikus 71 tahun ini membuktikan PBB bodoh lantaran berharap polisi menghormati hak asasi pengedar narkoba
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon bulan selanjutnya membuktikan pertumbuhan kekerasan di Filipina terlalu mengkhawatirkan. Banyaknya orang-orang mati ditembak tanpa pengadilan merupakan preseden tidak baik bagi sebuah negara demokratis. “Tindakan semacam itu ilegal dan melanggar hak dasar tiap tiap manusia,” kata Ban.

Dilansir Merdeka.com, Kecaman terhadap Filipina termasuk dilontarkan oleh Badan Anti-Narkoba PBB. Lembaga ini menunjang upaya perang terhadap narkoba, tetapi tidak bersama dengan cara menembak mati orang-orang yang belum diadili.

Diperkirakan sepanjang tiga bulan paling akhir telah ada 1.054 orang yang tewas ditembak mati hanya gara-gara dia dianggap bandar. Nyaris semua pembunuhan ‘bandar’ ditunaikan oleh satuan tertentu kepolisian. Sekitar 400-an jasad dibunuh tanpa diketahui siapa pelakunya, serupa operasi Penembakan Misterius di Indonesia era Orde Baru.

Duterte sekaligus memberitakan puluhan nama pejabat tempat maupun pusat yang dituduh membekingi usaha narkoba. Belasan pejabat telah menyerahkan diri ke polisi, gara-gara pemerintah pusat memberitakan ancaman tembak di tempat misalnya mereka nekat kabur.